Puasa | Mengenal Puasa Syareat dan Puasa Hakikat

Al Alamul Iman : Puasa | Mengenal Puasa Syareat dan Puasa Hakikat
Assalamu'alaikum wr, wb.
Kelaparan adalah bukti kita merasakan Puasa


Puji Syukur terhadap Alloh Robbul'amin yang telah mensucikan-Nya dan memberikan kesucian bagi makhluknya yang Ia kehendaki, semoga kita mendapat taufiq dan hidayah agar kita selalu bertaqwa kepada Allah SWT serta kita mendapat Rahmat dan syafaat Rosululloh saw.
Mari kita tingkatkan amal ibadah kita kedalam ibadah yang jauh lebih sempurna yaitu melaksanaka Puasa Syareat dan Puasa Hakikat, semoga Allah mengampuni segala kesalahan kita masa lalu, kini dan akan datang  sehingga kita bisa bertemu Robb kita..aamiin.


Puasa syariat adalah menahan diri dari makan, minum, dan ber se-tubuh di siang hari. Sedangkan, Puasa Tarekat adalah menahan seluruh anggota tubuh-secara lahir maupun batin, siang maupun malam-dari segala perbuatan yang diharamkan, yang dilarang dan sifat-sifat tercela, seperti 'ujub, sombong, bakhil dan sebagainya. Semua itu, dapat membatalkan puasa syariat. Puasa syariat terbatas waktu, sedang puasa tarekat seumur hidup.


Rasulullah SAW bersabda,
"Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain hanya lapar dan dahaga." 
(HR. Ibnu Majah)

Oleh karena itu, ada pula ungkapan, "Banyak yang berpuasa, tetapi berbuka. Banyak yang berbuka, tetapi berpuasa." Arti dari, "Banyak yang berbuka, tetapi berpuasa" adalah orang yang perutnya tidak berpuasa, tetapi ia menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan terlarang dan menyakiti orang lain.


Sebagaimana firman Allah SWT dalam Hadis Qudsi, 
"Puasa itu untukku dan Akulah yang akan membalasnya. " 
(HR. Muslim)
Allah SWT juga berfirman dalam Hadis Qudsi,
“Bagi orang yang berpuasa akan mendapat dua kebahagiaan. Pertama, yaitu ketika berbuka. Kedua, ketika melihat Aku. "


Menurut ahli syariat yang dimaksud dengan berbuka adalah makan pada saat matahari tenggelam. Sedangkan, ru'yah yang mereka maksud adalah melihat hilal untuk menentukan jatuhnya hari raya Idul Fitri.


Adapun pengertian menurut ahli tarekat, berbuka (al-ifthar) ialah kebahagiaan saat masuk surga, saat mencicipi semua kenikmatan surga. Semoga Allah SWT memberikannya kepada kita. Kedua, yang dimaksud dengan ru'yah (menurut ahli tarekat) ialah melihat Allah SWT secara nyata pada Hari Kiamat dengan pandangan sirri. Semoga dengan kemuliaan dan keutamaan Allah SWT, Dia menganugerahkan kepada kita semua untuk bisa melihat-Nya.


 Adapun puasa hakikat ialah menjaga kalbu dari mencintai selain Allah SWT dan menjaga rasa (sirri) agar tidak mencintai musyahadah pada selain Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Hadis Qudsi, "Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku rahasianya."

Sirri itu berasal dari cahaya Allah SWT, sehingga tidak mungkin condong kepada selain Allah SWT. Bagi orang yang berpuasa tarekat, di dunia ini maupun di akhirat, tidak ada yang dicintai, diingini, dan dicari selain Allah SWT. Jika kalbu dan sirri terjatuh untuk mencintai selain Allah SWT, maka batallah puasa tarekatnya dan ia harus melakukan qadha dengan kembali mencintai Allah SWT dan menemui-Nya. Pahala dari puasa tarekat ini adalah bertemu dengan Allah SWT. 


Sesuai firman Allah SWT dalam Hadis Qudsi, 
"Puasa itu bagi-Ku dan Akulah yang akan membalasnya. " 
(HR. At - Turmudzi)

Bagi yang Mau Mengikuti Program (metode) Asnaf Shodaqoh klik disini
Wallohu'alam
Wassalamu'alaikum wr, wb.
Sumber : Ustadz Aang | Kitab Sirrur Ashror ( Tuan Syekh Abdul Qodir Zailani ra)